3 Sejarah Lokasi Tambang Batu Bara Milik Belanda Saat Menjajah Banjar

Daftar Isi [Tutup]

    Jika sebelumnya Belanda melakukan ekspedisi ke Tanah Banjar, Kalimantan Selatan hanya untuk memonopoli perdagangan lada, revolusi industri yang terjadi di Eropa menjadi pemicu Belanda juga ingin menguasai Batu Bara di Kalimantan Selatan.

     

    banaranmedia.com - Menurut Idwar Saleh, abad ke 19 adalah abad kolonialisme dan imperialisme modern. Kolonialisme merupakan paham tentang penguasaan oleh suatu negara/bangsa terhadap daerah/wilayah lain dengan maksud memperluas wilayah.

    Imperialisme merupakan istilah yang berasal dari kata "imperator" artinya memerintah. Kata imperialisme pertama kali muncul di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu "impire" yang meliputi seluruh dunia.

    Nah, berarti Imperialisme itu adalah suatu sistem dalam dunia politik yang bertujuan untuk menguasai negara lain untuk memperoleh kekuasaan atau keuntungan dari negara yang dikuasainya.

    Revolusi industri yang terjadi pada saat itu adalah ditemukannya teknologi baru seperti mesin uap, kapal api, kereta api dan berdirinya pabrik-pabrik yang beroperasi menggunakan mesin uap.

    Lantas bagaimana dengan Belanda? Saat itu kebutuhan batu bara semakin meningkat, sementara untuk mendapatkannya harus impor dari negara Eropa yang mahal harganya.

    Pihak Belanda mengetahui di wilayah Kesultanan Banjar terdapat batu bara berlimpah. Mereka sebelumnya menganggap, Kesultanan Banjar sejak tahun 1787 sebagai tanah pinjaman VOC kepada para sultan.

    Pada tahun 1845 Gubernur Weddik memperbaharui perjanjian dengan Sultan Adam yang dibuat sebelumnya pada 1826. Dalam perjanjian yang baru, sultan harus mengizinkan kepada Belanda untuk mengeksploitasi tambang batu bara di seluruh wilayah Kesultanan Banar.

    Perusahaan Batu Bara De Hoop di Loktabat

    Perusahaan batu bara milik pemerintah Belanda, De Hoop berdiri pada tahun 1846 di Loktabat. Perusahaan ini sempat berproduksi namun dihentikan karena banyak buruh yang jatuh sakit akibat bekerja terlalu berat. Saat itu mereka belum menggunakan mesin alat berat. Alasan lain adalah jauhnya jarak angkut ke Banjarmasin.

    Perusahaan Baru Bara Oranye Nassau di Pengaron

    Perusahaan batu bara milik pemerintahan Belanda selanjutnya adalah Oranye Nassau yang berdiri tahun 1849, tiga tahun setelah De Hoop ditutup. Wilayah operasional perusahaan ini berada di Pengaron, daerah Riam Kiwa.

    Oranye Nassau sanggup memproduksi batu bara sebanyak 10 ribu ton per tahun. Di tahun 1854, jumlah produksi meningkat hingga 14.794 ton.

    Semua batu bara yang dihasilkan perusahaan Oranye Nassau digunakan untuk keperluan angkatan laut Belanda, selanjutnya ingin ditingkatkan untuk memenuhi keperluan kapal uap swasta.

    Perusahaan ini beroperasi menggunakan tenaga buruh dengan upah murah, terdiri dari orang-orang hukuman dan yang memiliki utang dan tidak sanggup membayar.

    Tambang Batu Bara di Sembelimbing, Kotabaru

    Dari berbagai literatur, belum jelas nama perusahaan yang beraktifitas melakukan penambangan batu bara di daerah ini. Namun dari aktifitasnya, di tempat ini tergolong besar dan aktif berproduksi hingga menjelang kemerdekaan dengan jumlah buruh mencapai 5 ribu orang.

    Demikian 3 sejarah lokasi tambang batu bara milik pemerintahan Belanda saat menjajah di Tanah Banjar, Kalimantan Selatan yang disarikan dari buku Perang Banjar Barito, Ahmad Barjie (1859-1906).
    Tinggalkan Komentar